Tafsir Tematik Maqashidy karya Para Santri

Buku ini ditulis oleh  M. Subhan, M. Mubasysyarum Bih, Yudhistira Aga, dan Dudin Fakhruddin. Diterbitkan oleh Lirboyo Press kerjasama dengan alumni Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2013. Mereka ini adalah tim penulis yang lahir dari Forum Kajian Ilmiah Ahla Shuffah 103.

Mengacu pada penanggalan pada halaman KDT buku ini pertama kali terbit pada tahun 2013. Hal ini diperkuat juga dengan informasi dalam Pengantar Redaksi, tertanggal Kediri, 20 Mei 2013.

Edisi pertama, buku ini disertai Kata Sambutan dari Pengasuh Ponpes Lirboyo: KH. Ahmad Idris Marzuki, tertanggal 24 April 2013; Kata Pengantar dari KH. Maimoen Zubair, pengasuh Ponpes Al-Anwar Sarang Rembang tertanggal 10 Mei 2013; Sambutan Pembaca Ahli oleh KH. Azizi Hasbullah tertanggal 8 Mei 2013; dan sambutan dari Dewan Mustahiq, KH. Said Ridwan, tertanggal 16 Mei 2013.

Di luar Kata Pendahuluan, yang berisi tentang uraian makna maqashid al-syariah dan tokoh2nya, buku ini terdiri dari enam topik pembahasan. Pertama, menjelaskan aktor maqashid al-syariah, yaitu manusia, malaikat, dan Iblis.

Kedua, menjaga agama, terdiri dari lima sub bab, yaitu tentang arti menjaga agama, penistaan agama, kebebasan beragama, keadilan agama, dan budaya ( h. 42-91)

Ketiga, Menjaga kelangsungan hidup, terdiri dari enam subbab, yaitu arti menjaga kelangsungan hidup, dinamika sosial, terorisme, perdamaian, NKRI dan Pancasila, dan status non muslim di Indonesia (h. 106-160)

Keempat, menjaga garis keturunan. Bagian ini terdiri dari dari lima subbab, yaitu arti menjaga garis keturunan, pernikahan, maskawin, gender di mata Islam, dan asusila (162-188).

Kelima, menjaga harta benda. Bab ini terdiri dari tiga subbagian, yaitu arti menjaga harta benda, pencerahan arti tawakkal, dan mitra kerja.

Keenam, menjaga akal. Bab ini terdiri dari empat subbab, yaitu tentang arti menjaga intelektual, demokrasi, ilmu pengetahuan, dan mirasantika (h. 225-263)

Sebagai produk akademik, karya tafsir ini bukan lahir karena tugas di pesantren atau tugas tugas lain yang bersifat formal dan birokratis. Tapi, karya ini lahir dari forum kajian ilmiah di Pesantren. Saya kira, dari konteks ruang sosial dan basis tradisi, karya ini menarik dan baru di tengah dinamika sejarah penulisan tafsir di Indonesia.

Di samping itu, jejaring pertemanan para santri yang terlibat dalam penulisan buku ini dengan kawan kawan mereka yang telah bergelut di Perguruan Tinggi, seperti di UIN Yogya, UIN Malang, STAIN Kediri, dan Tribakti Kediri, juga sisi yang unik.

Dalam peta tafsir di Indonesia, karya ini menarik bukan hanya karena asal usul dan basis sosial serta tradisinya, tetapi juga tema tema dan isu baru yang diperbincangkannya. Salam. (Islah Gus Mian, dosen tafsir UIN Yogyakarta)

Artikel Terkait